June 9th, 2016

Teman-teman pernah nggak melakukan penilaian karakter melalui kejadian sederhana dalam kehidupan sehari-hari? Misalnya seorang teman ingkar janji kemudian kita menilai orang ini tidak bertanggung jawab, suka menyepelekan, bahkan yang lebih ekstrim orang ini tidak dapat dipercaya.

Ada seorang rekan yang mengeluh kepada saya, dia membeli barang kepada pelatihnya, dia sudah langsung membayar begitu memesan barang tersebut. Namun beberapa hari kemudian, pelatihnya bilang barangnya sudah ada, tapi dibeli oleh seseorang yang kebetulan melihat barang pesanannya di meja. Direbut begitu saja katanya. Menurut teman-teman layak nggak rekan saya tersebut marah karena kecewa?

Belum cukup dikecewakan, tiap bertemu dengan pelatihnya, barang pengganti yang katanya sudah ada belum juga bisa diterima rekan saya, mulai dari alasan ketinggalan, kelupaan, waktu dibawa nggak ketemu rekan saya, sampai alasan barangnya di tas dan saat datang ke gym nggak bawa tas karena semalam menginap di rumah mertuanya.

Gimana, percaya nggak dengan alasan tersebut? Rekan saya tersebut tidak mau mempermasalahkan hanya karena hubungan baik, nggak enak juga kan ribut-ribut padahal masih sering bertemu di gym. Toh hanya suplemen, yang mana nggak penting-penting amat.

Tapi penilaian karakter tetap berjalan kan? Dari kejadian sederhana tersebut, rekan saya jadi nggak percaya lagi pada karakter pelatihnya, ini orang yang nggak baik untuk berbisnis. Uang kecil, barang kecil aja nggak bisa menepati perkataan sendiri, dan mana boleh sih, barang titipan yang sudah dibayar oleh pemesan dijual begitu saja pada orang lain (apalagi tanpa seijin pemesan awal yang sudah menjadi pemilik dari barang tersebut sekarang).

Jangan pernah lupa penilaian karakter dari hal-hal sederhana beginilah yang seringkali diingat oleh otak kita dan disimpan sebagai bank data.

Saya punya juga kok teman yang omongannya nggak bisa dipegang, tiap bilang mau datang, teman saya ini bisa saja membatalkan pada saat-saat terakhir, padahal kadang saya mengurungkan niat pergi karena dia mau datang main ke rumah. Sesudah beberapa kali terulang, jadinya saya beranggapan teman saya ini suka menyepelekan, dia tidak merasa waktu yang saya luangkan untuk dia juga berharga untuk saya (saya bisa mengisi waktu tersebut untuk hal-hal yang berguna buat saya). Jadinya sampai hari ini, bila dia bilang mau main ke rumah, saya tetap selalu menjawab oke, tapi bila saya ada perlu, tentu saya akan mendahulukan keperluan saya (dia saya anggap datang bila sudah muncul di rumah), dan benar saja, sampai hari ini ‘mulutnya masih nggak bisa dipegang’

Orang-orang seperti ini tidak berpikir kalau penilaian karakter sangatlah penting bagi dirinya. Orang yang dapat dipercaya biasanya lebih mudah mendapatkan pinjaman bahkan saat tidak ada jaminan. Contohnya: saya punya rekan yang berhutang kepada saya, dan saat jatuh tempo membayar hujan turun dengan deras, dia menghubungi saya untuk menunda pembayaran. Mana yang lebih baik, rekan saya tersebut atau rekan lain yang saat jatuh tempo diam saja berharap saya lupa kalau sudah jatuh tempo? Mana yang saat akan meminjam lagi akan kita bantu?

Kejujuran dan Menepati omongan sendiri adalah hal yang sangat penting dalam penilaian karakter, dan bilamana ternyata sesudah membaca artikel ini, kita termasuk orang yang ‘menyepelekan orang lain, tidak menepati janji’ belum terlambat kok untuk berubah menjadi lebih baik.

Orang berkarakter baik selalu mendapatkan prioritas saat melamar kerja, meminjam barang, dan berbagai kegiatan bisnis. Dalam ilmu perbankan yang pernah saya pelajari di kampus, dosen saya menekankan dalam memberikan pinjaman kepada nasabahnya, bank selalu nomor satu mendasarkan pada karakter nasabah (orang bisa saja mampu membayar, tapi kalau orang tersebut ‘nakal’ tidak mau membayar kan juga bikin pusing bank). Bukankah lebih baik orang yang saat kesulitan membayar masih berusaha mencicil daripada orang yang mampu tapi tidak mau membayar?

Dalam kejadian sehari-hari sebetulnya penilaian karakter terus berjalan bahkan dari hal-hal kecil yang sepele dan terkesan tidak penting. Karena itu selalulah memiliki kebiasaan berpikir dan bertindak yang baik, karena itu akan tercermin dalam tingkah laku kita, dan menjadi bahan penilaian karakter kita oleh orang lain.

Posted In: Gado Gado

July 10th, 2015

Teman-teman mungkin sudah banyak yang kenal nama Ellen May, atau sudah sempat membaca artikel saya sebelumnya. Tapi di sini saya mau cerita sedikit yang sangat mendasar tentang trading (bisnis saham) dan main saham… beda loh… Sangat berbeda sekali.

Yang namanya ‘main’ ya hasilnya tentu main-main ya… Kalau namanya bisnis, tentu harus dilakukan dengan sungguh-sungguh karena di sana kita keluar modal, dan dalam bisnis tentu saja kita ingin bisa profit (untung), dalam bisnis kita juga harus bekerja bukan cuma asal-asalan saja mengharapkan imbal hasil yang tinggi (bisnis bukan investasi bodong ya tapi bisnis).

Tapi banyak sekali rekan trader, terutama rekan trader pemula merasa sudah bisa trading (ataupun investasi saham) hanya karena keberuntungan pemula (beginner luck)… Beberapa kali untung merasa metodenya sudah benar, padahal itu hanyalah kebetulan yang melahirkan euphoria… dan kemudian saat badai menghantam, bukan hanya keuntungan yang sudah didapat yang lenyap tapi modalpun nyangkut ataupun hilang (bila yang kita miliki adalah saham busuk). Baca Selengkapnya »

Posted In: Tips Keuangan

June 28th, 2015

Mungkin teman-teman yang masih mengikuti blog saya ini memperhatikan kalau sejak 2012 saya sudah lebih jarang menulis mengisi blog ini. Maaf sekali karena saat itu prioritas saya adalah menjadi ibu hamil yang baik, oleh dokter saya nggak boleh duduk terlalu lama, sedangkan penyakit saya kalau sudah duduk, lupa berdiri… hehehe…

Sekarang anak sudah hampir 2 tahun, rasanya kerinduan saya pada salah satu passion lama saya sebagai blogger harus saya mulai kembali.

Hampir 3 tahun tidak mengerjakan blog secara aktif bukan berarti saya nggak ngapa-ngapain loh, saya tetap berusaha punya penghasilan sendiri supaya nggak bergantung sama suami (atau membebani suami), gimana pun rumah tangga dengan 2 atau lebih penghasilan tentunya lebih baik.

Saya mencari penghasilan tambahan dengan berjualan produk MLM dan mengembangkan jaringan saya sebisa yang saya mampu dan juga berjualan ebook traveling hemat . Baca Selengkapnya »

Posted In: Motivasi