August 7th, 2008

Minggu lalu saya membaca majalah Femina nomor 31 edisi 31 Juli-6 Agustus 2008 dan ada artikel yang cukup menarik tentang gaya hidup masa kini, yaitu fenomena penggunaan handphone yang sudah menjadi lifestyle.

Di sana ada angket terhadap 100 wanita usia 25-40 tahun (baik lajang maupun menikah), 65% menjawab tidak bisa hidup tanpa ponsel.

Sedangkan survey YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) mengungkapkan 80% orang yang ponselnya ketinggalan rela pulang sekalipun harus menembus macetnya jalanan, resiko terlambat ke kantor dsb, dengan alasan ponsel tersebut penting untuk kelancaran pekerjaan, kelancaran hubungan (pertemanan, pacaran), dan beraneka ragam alasan lainnya.

Saya sendiri bisa dibilang ponselnya hampir tidak pernah off, paling-paling saya pasang mode getar supaya tidak mengganggu tidur atau kegiatan tidak boleh ribut lainnya. Alasan saya sich siapa tahu ada hal-hal penting (misalnya ada dukacita, ada yang sakit) di mana yang menghubungi itu tidak bisa menelepon ke rumah (siapa tahu telpon rumah lagi gangguan?)

Tapi dengan adanya tariff-tarif murah sekarang ini sudah terasa wajar buat seseorang memiliki minimal 2 ponsel, yaitu handphone GSM dan ponsel CDMA. Alasannya? Buat penghematan tarif, pemakaian ponsel yang mana yang akan kita pakai tergantung siapa yang akan kita hubungi, mana yang lebih murah itu yang kita pakai.

Akibatnya tas jadi lebih berat, karena isinya bertambah. Trus kalo merek ponselnya berlainan alamat bawa beberapa charger kalau pas ke luar kota (gimana ya rasanya kalau punya 4 ponsel kayak Anita Hara yang model & presenter itu?)

Belum lagi biaya pulsa, coba teman-teman hitung berapa pengeluaran pulsa untuk semua ponsel yang teman-teman miliki. Meskipun tidak dipakai kan juga mesti diisi pada waktunya kan? Berapa persen pengeluaran pulsa itu dibandingkan total penghasilan teman-teman, moga-moga masih di bawah 5% ya?

Tapi mau tidak mau dengan mahalnya harga BBM sekarang ini, berkomunikasi lewat ponsel bisa jadi lebih murah dibandingkan kita berkendaraan untuk ngobrol ngalor ngidul ama teman. Belum lagi berkendaraan juga masih macet, nambah polusi, pake ponsel lebih praktis kayaknya 😉 Ponsel memang meniadakan jarak dan waktu, sangat memudahkan komunikasi.

Namun perlu diingat, jangan sampai lifestyle yang satu ini membuat kita kecanduan, maksudnya gini: mentang-mentang pulsanya murah, jadi ngobrol melulu, ingat kita tentu punya pekerjaan yang harus dikerjakan, tujuan (cita-cita) yang ingin dicapai, jangan sampai terlena ama ngobrol melulu ya 🙁 Juga pertimbangkan kesibukan lawan bicara, janganlah kita ini mengganggu aktivitas orang lain (apalagi orang sini masih budaya sungkan, kuatir dibilang sombong, dsb, jadi meladeni terus aja omongan kita, kan kasihan teman kita itu ;))

Juga kalo kita terlena ama kenikmatan ponsel, ntar kantong bisa bokek loh buat beli pulsa;)

Sekalipun pulsanya murah bin gratis, coba dech pikir gini, misalnya waktu yang kita pake ngobrol gak jelas itu kita pakai untuk membaca, kan dapat ilmu, kalau kita pakai bekerja kan ada extra income, kalo kita pakai tidur kan lumayan bangun bisa seger.

So misalnya sehari kita telpon-telpon an 3 jam, apa itu bukan pemborosan waktu? Waktu kan gak bisa diulang, jadi jangan diboros-boroskan gak jelas dong?

Kalau mau tau berapa banyak waktu yang diboroskan via ponsel, gampang, check aja pengeluaran pulsa teman-teman 3 bulan terakhir ini berapa? Juga check tiap hari telpon masuk ama keluar yang ngalor ngidul gak penting itu berapa jam sehari.

Be effective on Life to Achieve More 😉


Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Live
  • StumbleUpon
  • YahooMyWeb

Leave a Reply