July 24th, 2008

Mungkin teman-teman pernah memperhatikan persaingan yang ketat, di mana penjual barang-barang yang sama bahkan berjejeran semua, contohnya penjual HP di Handphone Center yang kian marak, trus toko-toko pakaian di mall, penjual sembako di pasar tradisional.

Mayoritas mereka menjual barang-barang yang sama, dengan variasi merek, model, warna, harga, tapi juga banyak barang-barang yang sama persis baik merek, model, warna, pokoknya sama kayak di cloning dech:)

Tapi kenapa mereka semua pada bertahan? (emang ada loh yang terus tokonya tutup atau pindah lokasi). Itu karena mereka sesungguhnya punya pasar (customer) sendiri-sendiri yang mungkin juga customer-customer unik.

Yang ingin saya bahas di sini adalah persaingannya. Apakah kita harus takut menghadapi persaingan? Kalau dipikir-pikir ya, tidak ada pesaing itu bisa 2 sebab, yaitu: barang tersebut sedemikian barunya sehingga baru kita yang tahu (ini tentunya bisa jadi terobosan yang menjanjikan), atau sebaliknya barang itu emang gak ada peminatnya jadi ya emang gak ada yang mau menjual.

Di dekat rumah saya, ada 2 dokter gigi yang berjarak 3 rumah satu sama lain. Tapi rejekinya beda banget, yang satu sampai pake suster 2 orang buat bantuin siapin alat, dll di ruang praktek. Yang satunya lagi L aduh, susternya santai banget, duduk-duduk baca koran sambil sms-an;)

Kenapa hal itu terjadi? Apa yang satu lebih pintar dari yang lain? Yang satu lebih murah? Atau kenapa ya, kok si dokter laris tuh kalo mau appointment sampai antri 2 minggu sebelumnya?

Gini nich, si dokter laris itu, harganya hmmnn gak murah juga sich, cuma masih “fair price” lah. Tapi kualitas dia bagus, tambalan gigi gak sampailah rontok dalam waktu singkat. Trus dia orangnya juga telaten, sabar mendengarkan keluhan pasien. Untuk pasien-pasien ‘kesakitan’ dia selalu memberikan nomor telepon rumah dan hp nya supaya sewaktu-waktu bisa dihubungi bila pasien udah kesakitan gak tahan lagi.

Suster-susternya juga ramah, mereka selalu menelepon 2 jam sebelum jadwal untuk mengingatkan (meskipun ini juga menguntungkan dokternya, karena kalau kita berhalangan maka jadwal kita akan langsung ditawarkan pada orang yang waiting list).

Nah, sekarang ke dokter yang “kurang laris” itu, setahu aku (aduh maaf ya tetangga, bukan maksudnya ngegosip), dia agak sombong, dan agak mahal (tambalan kurang awet), lain-lain aku gak perlu sebutkan.

Dari sekilas gambaran persaingan-persaingan yang terjadi di sekitar kita, ada yang bisa kita pelajari loh 😉 yaitu kita nich gak perlu takut bersaing, yang penting berikan yang terbaik untuk customer kita. Selama kita bisa memberikan yang terbaik, pasti kita bisa bertahan dan bertambah maju.

Juga perlu diingat, setiap orang ada rejekinya masing-masing. Buktinya meski dokter itu gak laris, dia masih tetap buka praktek, bisa menggaji suster, berarti anyway dia masih sanggup bertahan;)

Dalam persaingan, gak perlu masam muka dengan pesaing kita, dalam usaha boleh bersaing, tapi jangan sampai saling menjatuhkan,. Jadikan kompetitor sebagai sahabat, ya saling bantu lah. Kadang-kadang kan kita juga perlu bantuan mereka, demikian juga mereka.

Selalu ingat ya, kalau seribu teman itu terlalu sedikit dan satu musuh itu terlalu banyak 😉

PS: terimakasih buat teman-teman dan seniorku di Asian Brain, terimakasih buat semua support dan persahabatannya selama ini;)

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Live
  • StumbleUpon
  • YahooMyWeb

Leave a Reply