April 22nd, 2009

Weekend kemarin saya bertemu dengan keponakan-keponakan teman saya yang bersekolah di sebuah international school di Jakarta (maaf saya tidak akan menyebutkan nama sekolahnya).

Mereka adalah remaja berusia 12 tahun dan anak lelaki berumur sekitar 7 tahun. Sejak kecil mereka telah bersekolah di international school di Jakarta, yang mana uang sekolahnya saja sudah dengan buntut ‘juta rupiah’.

Maklum, orang tua mereka cukup berada dan lulusan luar negeri, tentu saja mereka sangat berharap dan mempersiapkan anak-anaknya untuk melanjutkan pendidikan tinggi di Amerika (ada apa ya dengan Universitas di Indonesia? Mungkin ini merupakan tantangan untuk universitas-universitas di Indonesia untuk meningkatkan diri supaya dilirik oleh orang sendiri).

Yang menarik dari anak-anak ini bagi saya adalah kepandaian mereka berbahasa Inggris, cas cis cus lancar (maklum sehari-hari bahasa pengantar mereka di sekolah dan di rumah adalah bahasa Inggris, acara televisi pun TV kabel yang notabene berbahasa non Indonesia pula). Saya sampai jadi kurang pede juga berkomunikasi dengan mereka.

Ngomong bahasa Indonesia dengan cowok kecil tadi, bisa-bisa saya cuma dipandang saja, karena pengusaan bahasa Indonesia dia sangat kurang (bahkan dia ambil les bahasa Indonesia karena nilainya di sekolah kurang).

Kalau ngomong ama yang remaja, masih okay lah, nyambung, tapi remaja cantik ini jangan dikasih korang berbahasa Indonesia ya? Nanti dia nggak ngerti, bisa baca dikit-dikit tapi nggak gitu paham dech kayaknya.

Saya senang kumpul-kumpul dengan anak-anak ini, karena mereka berani berekspresi, tidak malu-malu, dan spontan dalam berkomunikasi. Tapi dalam pikiran saya, saya prihatin. Mengapa ada orang Indonesia pemegang paspor Indonesia tidak bisa berbahasa Indonesia dengan baik di negerinya sendiri? Aneh bukan?

Kalau ditanya orang di luar negeri, “Where do you come from?” Jawabnya pasti Indonesia. Tapi kok nggak bisa baca dan ngomong bahasa Indonesia ya? Ini kan kita nggak ngomongin orang pedalaman yang cuma bisa bahasa daerah.

Ataukah ini salah pendidikan keluarga yang kurang memperkenalkan bahasa Indonesia? Sekalipun mereka nantinya akan sekolah bahkan pindah ke luar negeri, bukankah saat ini mereka masih hidup di Indonesia?

Bila pemerintah kita memang ‘alert’ terhadap masalah penguasaan bahasa sebagian siswa International School, tidakkah ada jalan keluarnya? Mungkin menambah porsi mata pelajaran bahasa Indonesia? Bukankah sekolah itu berdiri di Indonesia?

Bila orang mau belajar bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, Perancis, tidakkah bahasa ibu sendiri juga harus dikuasai?

Apa jadinya bila di kemudian hari anak-anak yang dibesarkan ala ekspatriat ini harus tinggal di Indonesia? Apakah mereka akan hidup ala ekspatriat?

Banyak ya pertanyaan saya? Karena sampai sekarang saya tidak bisa menemukan penjelasan yang bisa saya terima mengapa anak-anak ini tidak bisa berbicara, baca tulis bahasa Indonesia dengan baik padahal mereka orang Indonesia. Dan saya rasa masih banyak siswa international school yang mengalami hal yang sama.

NB: bahkan ada seorang ibu yang memindahkan sekolah anaknya, karena pada kelas 3 SD bahasa pengantar yang semula bahasa Inggris menjadi bahasa Indonesia menyulitkan anaknya untuk belajar mata pelajaran yang ada. Dan karena sudah kesulitan harus menterjemahkan bahasa Indonesia ke bahasa Inggris supaya anaknya mengerti, maka ibu ini mengambil jalan yang lebih ‘mudah’ yaitu memindahkan sekolah anaknya.

Well, any comments? Saya tidak tahu berapa banyak kasus seperti ini, tapi saya berharap semua anak Indonesia bisa berkomunikasi dalam bahasa ibunya 🙂

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Live
  • StumbleUpon
  • YahooMyWeb

2 Comments

andrea April 23rd, 2009 at 4:21 pm

hehehe. gak kaget lah spt itu!
sepertinya orang indo emang gak bangga sama sekali sama identitas mrk sebagai org Indo.

Hal ini tentu tidak bisa menyalahkan si anak, krn bagaimanapun itu adalah semua krn pengaruh orang tua.
Bagaimanapun kondisi sekolah, sebenarnya “Sekolah” tempat pembelajaran yg pertama bagi anak-anak adalah rumah. Kalau di rumah orang tua membiasakan spt itu, ya sdh deh!
Btw, mereka itu kalau komunikasi sama supir, pembantu, atau tukang somay di pinggir jalan gmn tuh?

Setahuku, kalau di luar negeri, International School mempunyai kewajiban utk memberikan pelajaran bahasa nasional di mana sekolah itu berada. Kalau International School di Jkt, ya kudu memberikan pelajaran Bhs Indonesia dengan porsi yg cukup. Tapi tidak tahu deh apakah itu berlaku di Indonesia atau tidak.

Lina April 23rd, 2009 at 9:54 pm

Ya begitulah, gak ngerti juga gimana ponakan teman saya itu komunikasi kalo makan di pinggir jalan, ortunya kali yang ngomongin…

Di sekolah ada emang pelajaran bahasa Indo nya, cuma ya itu dech, nggak kayak kita pengguna yang sehari-hari pakai bahasa Indo 🙂

Leave a Reply