January 15th, 2010

Hari ini saya ke sebuah swalayan terbesar di kota Jember (tidak perlu saya sebutkan di sini, nanti bisa-bisa kena pasal pencemaran nama baik seperti Prita :)), sangat menjengkelkan sekali saat saya dikejar oleh seorang mbak-mbak dengan pertanyaan, “Apakah ada barang belanjaan ibu yang tertinggal?”

Merasa tidak mengenal mbak tersebut, dan dia juga tidak memperkenalkan diri terlebih dahulu, yang timbul di pikiran saya adalah rasa curiga, jangan-jangan orang ini mau menipu saya, atau menggendam dompet saya nich.

Saya berusaha untuk berlalu dengan menjawab tidak, tapi mbak satu ini terus ngotot aja mencegat saya, jadi akhirnya saya biarkan dia melihat kantong belanja saya dan masih belum puas, dia mengajak saya ke pos satpam untuk digeledah.

Saya setuju karena dia ingin menggeledah di pos satpam, alasannya nggak usah ke kasir dulu (entah takut dia yang malu kali ya?).

Dia bolak balik tanya apa ada belanjaan yang ketinggalan, ternyata maksudnya dia apa ada yang belum terbayar, saya bilang ,”Nggak tahu, cek saja sendiri” sambil saya berikan bon belanja dan mengeluarkan isi kantong belanja. Pada saat itu yang terpikir oleh saya adalah mungkin kasir memasukkan barang ke kantong belanja saya tapi lupa memasukkan jumlahnya ke nota pembelian.

Masih nggak puas, dia mau menggeledah tas tangan saya jadi saya keluarkan saja isinya ke atas meja dengan jengkel.

Setelah tidak menemukan apa-apa, dia bertanya lagi, “Apakah foam nya tidak terbawa? Atau sudah dikembalikan?”

Saya langsung saja meninggikan suara, lah gimana gak jengkel, saya ke swalayan tersebut sama sekali nggak niat beli foam, dan saya bukan pemakai foam, sudah gitu, jangankan beli, selama saya di sana saya sama sekali nggak memegang yang namanya botol foam.

Ditanya beberapa kali soal foam, saya jengkel, dan saya jelaskan saya tidak memegang foam. Saya tanya balik, apakah ada laporan kehilangan? Apakah swalayan terbesar ini tidak punya CCTV?

Dengan berani mbak itu bilang, punya CCTV, saya bilang lagi, kalo punya tentu saja kelihatan saya memegang foam atau tidak (Berani sekali dia bilang saya memegang foam).

Beruntunglah dia, saya masih sadar, kalau saya permasalahkan hal ini ke atasannya, bisa-bisa dia yang ditegur, hanya saja saya tidak ingin membuat dia kesulitan di pekerjaannya (sekarang cari kerja kan katanya susah?? Saya berusaha sabar saja untuk tidak ‘memecahkan piring nasinya’).

Kalaupun saya punya saran untuk manajemen swalayan tersebut, tolong itu pegawainya diajarin untuk memperkenalkan diri, kalau perlu dikawal dengan satpam, biar kita sebagai pembeli nggak malah ketakutan seperti yang saya alami.

Saking jengkelnya saya, begitu dia mengembalikan semua barang saya dan meminta maaf, saya diam saja dan berlalu (setelah memeriksa beberapa kali memastikan handphone dan dompet saya sudah dikembalikan).

Mungkin ada teman-teman yang pernah mengalami hal serupa?

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Live
  • StumbleUpon
  • YahooMyWeb

4 Comments

audy January 15th, 2010 at 2:17 pm

waduuuh, pasti bikin kesel yaah, memang kadang kasir di supermarket arogan, beberapa kali aku nemuin mereka bersikap kurang sopan…..moga2 mereka sadar yaah…

sarif husin January 15th, 2010 at 4:31 pm

kalau saya saya laporin kepetugas sewalayan,, he,,

Lina January 15th, 2010 at 9:41 pm

@ Mas Sarif : Iya Mas, lain kali pasti saya laporkan, paling gak saya urus ke atas biar gak sembrono – biar sama-sama jengkel juga, hehehe 🙂

hanari June 8th, 2014 at 1:42 pm

Sabar sekali sampai dilaporin ke atsannya. kalau saya kayaknya gondok banget

Leave a Reply