December 23rd, 2008

Mengatur waktu itu susah susah gampang, kadang sudah berhasil membuat jadwal tapi tidak bisa menepati jadwal tersebut, alhasil banyak hal yang terbengkalai.

Saya rasa teman-teman banyak juga yang kadang sibuk sepanjang hari sampai capek semua, tapi pas malam hari evaluasi ternyata tidak banyak yang berhasil kita kerjakan. Laporan untuk besok belum selesai, belum sempat membeli persediaan kertas dan alat tulis, bahkan belum sempat juga beli kado untuk sahabat yang akan segera ulang tahun, dan sebagainya.

Padahal tuh, teman-teman sepanjang hari ini juga tidak tidur siang, tidak bermalas-malasan, trus kemana waktu sepanjang hari tadi? Apakah terlambat bangun tidur?

Kadang tanpa kita sadari banyak sekali ‘intermezzo’ yang menyela pekerjaan kita, contohnya kita sedang asyik menulis artikel, tiba-tiba teman lama telpon dan kita terseret ke 30 menit pembicaraan yang isinya bergosip. Kemudian setelah bergosip, kita merasa haus, langsung ke kulkas mengambil segelas air dingin, dan merasa lelah sudah mengetik artikel (padahal lelah karena bergosip), merasa waktunya istirahat, kita ambil koran dan membacanya selama 20 menit. Tidak terasa sudah jam makan siang, kembali ke meja komputer melanjutkan mengetik lagi, tapi konsentrasi sudah terlanjur ‘sedikit’ buyar.

Melihat skenario di atas, apanya yang salah? Apakah bertelepon ria dengan teman lama tidak boleh? Well, take it this way, bilamana teman-teman bekerja di sebuah kantor resmi, kira-kira supervisor marah gak ya kalau kita bergosip pada jam kerja? Dan apakah pekerjaan kita akan selesai tepat pada waktunya bila kita ‘bergosip’?

Intinya, kadang kita ini menurutkan perasaan, tidak ingin membuat orang lain kecewa, sehingga terbawa suasana (apalagi bergosip itu kerap kali memang ‘mengasyikkan’). Padahal teman kita itu mungkin emang lagi nggak sibuk, sehari-hari mungkin banyak ngobrol sana sini (maklum ‘anak nggak butuh duit’), nah apakah teman-teman juga mau menyia-nyiakan waktu seperti ini?

Bukankah lebih baik teman-teman mendisiplinkan diri sendiri? Jam kerja ya kerja, bergosip nanti saja saat jam istirahat. Dan buatlah alokasi waktu bersosialisasi secukupnya (kita kan bukan socialista).

Hal ini tentu saja lebih kerap dialami mereka yang bekerja di rumah. Karena kantornya di rumah, orang ‘merasa’ kita punya banyak sekali waktu (karena dianggap pengangguran), padahal kerjaan kita juga nggak sedikit.

Disiplinkan diri sendiri, saat diajak bergosip di tengah jam kerja kita, sampaikan dengan ramah pada teman kita itu agar nanti saja dia menelepon kembali, atau kita yang menelepon beberapa jam kemudian. Harus bisa tegas, kalau tidak mau menterlantarkan pekerjaan sendiri.

Adakalanya memang kita harus mendahulukan teman, bilamana ‘under emergency’, misalnya saja teman kita sedang shock, stress berat, atau mengalami kesulitan yang tidak bisa menunggu kita ‘punya waktu’.

Intinya, mana yang lebih penting itu yang didahulukan, be profesional.
Semoga bermanfaat 🙂

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Live
  • StumbleUpon
  • YahooMyWeb

Leave a Reply