August 13th, 2009

Saya sedang membaca sebuah artikel di majalah GoodHousekeeping edisi Agustus 2009, dan saya kira akan bermanfaat kalau masalah emotional eater ini saya posting di KafeSantai.

Teman-teman pernah nggak mengalami atau mungkin punya teman yang kalau marah, sedih, stress, emosi gitu, makannya jadi banyak, semua disantap, bahkan mencari makanan tertentu yang biasanya manis-manis seperti coklat, dsj? Bisa jadi itu adalah emotional eating, yaitu ketika seseorang menyantap makanan karena alasan-alasan lain selain rasa lapar, melainkan makan supaya merasa nyaman secara emosional.

Mau tau tanda-tanda untuk mengetahui apakah seseorang adalah Emotional Eater? Bila untuk pertanyaan-pertanyaan di bawah ini untuk 1 atau lebih jawabannya adalah YA, maka bisa jadi dia adalah seorang Emotional Eater:

  • Apakah anda kearp makan bahkan saat tidak merasa lapar?
  • Apakah anda kerap berpaling kepada makanan saat stress atau resah?
  • Makanan membantu anda menghadapi perasaan anda?
  • Anda kerap makan diam-diam
  • Begitu mulai makan, anda sulit berhenti, bahkan ketika rasa lapar sudah hilang
  • Anda merasa lemas saat tak mendapatkan makanan yang amat saya idamkan
  • Anda memikirkan makanan sepanjang hari

Nah bagaimana untuk mengatasi masalah emotional eating ini?

  • Posisikan makanan pada tempatnya, makanan tidak akan menyelesaikan masalah, malah membuat lingkaran setan, karena setelah kita makan secara emosional, kita malah akan merasa bersalah karena telah begitu mudah menyerah. Bila perlu, carilah bantuan professional.
  • Carilah cara lain untuk menenangkan diri, misalnya dengan berolah raga, relaksasi, dll, kenali apakah keinginan makan memang karena lapar atau lapar semu saja (lapar semu biasanya datang secara tiba-tiba, dan menginginkan makanan yang spesifik, serta harus segera dipuaskan, pada lapar semu, kita juga akan terus makan meskipun telah kenyang, dan setelah makan kita akan merasa bersalah)
  • Mengubah keadaan, carilah kebiasaan-kebiasaan baru selain makan dan membeli makanan saat emosi datang.
  • Ubah lingkungan kita, minta dkungan anggota keluarga dan teman-teman untuk menjauhkan junk food dari jangkauan kita, dan ubah kebiasaan makan menjadi menu yang lebih sehat, saat emosi datang, lakukan kegiatan-kegiatan lain seperti mendengarkan musik, berjalan kaki dengan teman, ngobrol dengan teman.
  • Beri waktu dan kesempatan pada diri sendiri, untuk mengubah kebiasaan emotional eating ini tentu butuh waktu, kadang kita gagal, tidak perlu berpatah arang, ulangi sekali lagi. Ubah cara pandang, perasaan, dan perilaku terhadap masalah, emosi dan makanan.

Semoga bermanfaat 😉

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Live
  • StumbleUpon
  • YahooMyWeb

Leave a Reply