March 18th, 2009

Saya bukan seorang psikolog atau sejenisnya, tapi saya suka sekali membaca   beberapa hal tentang perilaku manusia, dan salah satunya adalah yang kita kenal sebagai shopaholic (kecanduan belanja).

Secara awam shopaholic adalah suatu perilaku di mana seseorang memiliki kebiasaan berbelanja sampai ke tahap kecanduan (tidak bisa mengontrol kebiasaannya tersebut), seorang shopaholic kerap kali tetap membeli barang yang sama (sudah dimiliki sebelumnya dengan alasan beda warna, beda merek, dsb),

Dan bukanlah sesuatu yang  mengherankan bilamana barang-barang tersebut tersimpan rapi tanpa dibuka begitu sampai di rumah.

Seorang shopaholic dapat membeli apa saja, mulai barang-barang mahal sampai barang remeh.

Banyak sekali orang yang berbelanja untuk melepas stress, padahal sesungguhnya ini cuma obat sesaat karena tidak menyentuh akar permasalahan, begitu pulang dari berbelanja, akan kembali lagi ke persoalan semua.

Berbelanja memang menyenangkan untuk orang kebanyakan. Banyak sekali perasaan menyenangkan yang akan didapat dari sana, mulai dari pujian yang akan diterima saat teman-teman kita melihat kita menggunakan barang-barang tersebut, kesenangan punya barang baru, dan perasaan memiliki kekuasaan (memiliki kekuasaan atas uang).

Inilah yang membuat seorang shopaholic sulit melepaskan diri dan bahkan semakin menjadi-jadi. Apalagi saat ini mudah sekali mendapatkan kartu kredit yang membuat kita merasa mendapat barang tanpa mengeluarkan uang.

Orang-orang shopaholic saat berbelanja habis-habisan akan membuat justifikasi (pembenaran) yang membenarkan dirinya. Misalnya, “toh bulan depan ada pesta yang harus saya hadiri” (padahal persediaan baju baru masih banyak). Atau “mumpung murah, nanti bisa buat kado ultah teman bulan Juni” (benarkah demikian? Apalagi kerap kali saat ultah tiba mungkin malah patungan dengan teman-teman sekantor untuk membeli kado), dan banyak lagi justifikasi yang dibuat untuk melegalkan kesenangan berbelanja tersebut (kecanduan).

Memang sulit untuk menentukan batasan kapan seseorang bisa dikategorikan sebagai seorang shopaholic. Tapi untuk mudahnya mungkin bisa dilihat dari beberapa hal sederhana berikut:

  • Seorang shopaholic sering melewati batas, dan membeli barang-barang yang belum tentu dipakai (termasuk barang-barang yang sudah dimiliki).
  • Tidak memiliki pertimbangan harga, begitu sudah terpikat oleh suatu barang tertentu, berapa pun harganya akan dihajar tanpa dipikir panjang.
  • Sering lupa akan barang-barang yang sudah dibeli.

Kecanduan berbelanja seperti ini akan menjadi masalah bilamana uang yang digunakan berbelanja sudah melebihi kemampuan (apalagi sampai berhutang), dan bila sampai mengorbankan hal-hal (kepentingan) yang lebih penting.

Bagaimana seandainya uang cicilan rumah terbawa untuk membeli sepatu branded? Apakah bank mau menerima pembayaran berupa sepatu? Bukankah dengan menunggak hanya akan membuat kita semakin lama melunasi cicilan rumah, belum lagi beban bunga yang  harus kita tanggung.

Tips sederhana untuk teman-teman yang merasa sudah kecanduan belanja atau mulai kecanduan, adalah membawa seorang teman dekat saat berbelanja, dan mintalah mereka untuk mengingatkan di saat kita sudah di luar batas. Tentunya dengan kesediaan untuk mendengarkan teman dekat tersebut. Percuma saja bila teman kita berkoar-koar mengingatkan tapi kita sendiri tetap saja membeli semua yang terlihat oleh mata 🙂

Semoga bermanfaat.

Share and Enjoy:
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Live
  • StumbleUpon
  • YahooMyWeb

Leave a Reply